3 colours

8 Juli, 2008

Sebuah kumpulan cerpen tiga karakter dari satu komunitas blogger Indonesia.

Ada Bunda Okky,

Ada Bu Dosen Jini,

Ada Mhimi, The queen of katrok.

Semua padu menuangkan karya mereka dalam satu proyek antologi yang ditujukan untuk bisa dinikmati semua pihak, semua kalangan yang diwakili tiga warna yang berbeda yang menunjukkan perbedaan ketiga karakter pengarangnya.

Sebagai seorang yang juga ikut “ngintip dari jauh” proses perwujudan karya ini, sejujurnya ada satu kebanggaan yang tidak mungkin menguap dalam waktu yang cepat, seperti juga perasaan lega, amazing yang Bunda Okky, Bu Dosen Jini juga Mhimi rasakan seiring dengan peluncuran buku ini. Bayangkan dalam bentangan tiga kota yang terpisah (Garut – Jakarta – Makassar), karya ini bisa mulus lahir nyaris tanpa hambatan. Saya yakin, hanyalah rasa dan kecintaan untuk berkarya-lah yang memungkinkan karya ini ada, ditambah dengan dukungan dari teman juga sahabat yang begitu mencintai ketiga perempuan luar biasa ini.

Tiga karakter yang berbeda dari ketiga pengarangnya saya yakin tidak mungkin tidak disengaja “diciptakan” untuk menghasilkan satu karya yang unik. Bunda Okky dengan roman sastranya, Bu Dosen Jini dengan dramatisasi kehidupannya, dan terakhir Mhimi dengan segala macam kekonyolannya. Karya “gado-gado” ini, saya yakin sanggup melontarkan kita jauh pada permainan roller coaster yang tidak ada habisnya. Dan ini benar-benar saya rasakan sendiri. Dengan cara membaca cerpen Bunda Okky di awal, kemudian dilanjutkan dengan karya Bu Dosen Jini dan kemudian cerpen pertama Mhimi, seterusnya kembali lagi ke cerpen kedua Bunda Okky dan seterusnya dan seterusnya…, saya merasakan satu sensasi yang…. ah.. entah harus dengan cara apa saya menyebutkannya. Saya nangis-nangis bombay membaca karya Bunda Okky, mengharu biru melumat habis karya Bu Dosen Jini, tertawa ngakak dengan kekonyolan Mhimi, nangis-nangis lagi, ketawa lagi… semua begitu komplet membahasakan kehidupan kita sehari-hari, dengan bahasa yang mengalir, jujur dan mudah dimengerti.

Dan ada lagi satu hal yang unik yang menjadi nilai tambah buku ini, karena masing-masing pengarang menulis satu cerpen sebagai persembahan untuk yang lainnya. Bunda Okky menulis tentang Mhimi, Bu Jini menulis tentang Bunda Okky dan Mhimi menulis tentang Bu Dosen Jini.

Penasaran?

Langsung ke “rumah” mereka yah?

Gambar diambil dari sini

“… aku tidak akan pernah melupakan wajah-wajah para binatang itu. Bagi mereka perempuan hanyalah sebuah benda yang dapat dimiliki, dialihkan kepada orang lain, atau dijadikan pelampiasan dendam. Mereka menikahi atau memerkosa perempuan berdasarkan konsepsi mereka mengenai kebanggaan kesukuan. Mereka sadar bahwa perempuan yang dipermalukan dengan cara demikian tidak memiliki pilihan lain kecuali bunuh diri. Mereka bahkan tidak perlu menggunakan senjata-senjata untuk membunuh perempuan itu. Pemerkosaan akan membunuhnya…”

Ya, Mukhtaran Bibi yang kemudian dikenal dengan Mukhtar Mai, 6 tahun silam dijatuhi hukuman oleh Dewan Adat di desanya (Meerwala, Pakistan), dengan cara diperkosa beramai-ramai, ditelanjangi dan diperintahkan berjalan pulang dengan kondisi setengah telanjang di hadapan 300-an penduduk desa. Hukuman tersebut dijatuhkan atas kesalahan yang tidak diperbuat adik laki-lakinya yang berumur 12 atau 13 tahun, yang dituduh oleh Kaum Mastoi memiliki affair dengan perempuan dari klannya yang berumur lebih dari dua kali lipatnya. Mukhtar Mai memohon ampun dan membaca Al Qur’an (satu-satunya bacaan yang dihapalnya), tapi hukuman tetap dilaksanakan dan meninggalkan luka yang demikian dalam bagi Mukhtar Mai.

Dengan segala keputus asaan, bunuh diri (seperti juga yang dilakukan banyak sekali perempuan di sekitarnya) menjadi satu-satunya pilihan termudah untuk menghilangkan segala perasaan malu dan ketidakberdayaan. Tapi kemudian ada satu hal yang membuat dia bangkit, menuntut keadilan untuk dirinya dan jutaan perempuan Pakistan lainnya yang mengalami nasib serupa.

Dari lembar per lembar buku ini, kita akan dibawa ke dalam perjuangan seorang perempuan Meerwala yang memegang teguh tradisi. Tradisi yang menganggap perempuan sebagai barang yang dapat dipertukarkan, tradisi yang menganggap keharusan untuk seorang perempuan dihukum atas kesalahan yang dilakukan laki-laki, tradisi yang menginginkan perempuan tetap menderita dalam sikap diamnya, tidak diperkenankan berfikir, tidak boleh belajar membaca dan menulis, serta mencari tahu bagaimana keadaan dunia di sekitar mereka. Kita akan dibawa pada perjuangan satu wanita buta huruf yang baru mengetahui bahwa mereka memiliki hak-hak yang dapat diperjuangkan. Berjuang untuk dirinya dan seluruh perempuan yang menjadi korban tindak kekarasan di negaranya. Berjuang melawan prinsip keadilan adat yang bertentangan dengan undang-undang resmi republik islam.

Buku biografi ini pertama kali terbit pada Maret 2007. Tapi bagi saya pribadi, kisah yang tertuang di dalamnya memberi kesan sedemikian dalam mengenai arti “melawan”, berjuang untuk mendapatkan keadilan dan kehormatan.

The Best of Me

22 Mei, 2008

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.