IBSN: my spoonful’s ice cream
21 Januari, 2009
Ada kalanya kita begitu menginginkan sesuatu dalam hidup kita.
Sesuatu yang setiap hari menyalakan semangat kita, sesuatu yang kita dambakan dalam setiap tarikan nafas. Tapi terkadang di saat kita hampir menggenggamnya, ada satu atau dua hal yang membuat kita urung mengulurkan tangan untuk meraihnya.. atau bahkan dengan terang-terangan mengikat tangan kita, agar kita tak bisa menggapainya.

Saya akan ceritakan seperti apa rasanya…
Rasanya… seperti kita menginginkan es krim seumur hidup, tapi ternyata kita selalu tetap miskin dan es krim itu tak pernah terbeli.
Tapi kita tau, es krim itulah yang memacu kita setiap hari melewati jalan yang sama, melintasi toko es krim yang sama, hanya untuk sekedar memandanginya lewat etalase toko, mencium wanginya yang bahkan telah kita ingat dengan baik.
Sepuasnya kita bisa membayangkan krim dingin lembut itu dalam kepala kita dan menerka-nerka rasanya…, tapi kenyataannya adalah bahwa es krim itu tak pernah kita rasakan.
Kemudian tanpa terduga, seseorang yang mungkin kita akan berterima kasih padanya seumur hidup, suatu hari mengundang kita ke rumahnya.
Dan kebahagiaan kita pun berlipat karena ternyata dia menyuguhkan semangkuk besar es krim dengan saus cokelat, vanila dan strawberi.. yang di mata kita tampak sangat luar biasa..
Tak sabar, penuh suka cita kita menyuap sesendok penuh es krim itu yang dalam sekejap memenuhi mulut kita. Lama kita membiarkan setiap syaraf di lidah kita mampu menikmatinya, membiarkan setiap sudut geligi kita merasakannya…
sampai akhirnya kita “ingin” menelannya…
Tapi kemudian tiba-tiba saja ada orang yang menghentikan usaha kita untuk menelan sesendok es krim itu, mencegah kita menelannya dan meminta kita untuk memuntahkannya,
dengan alasan… seumur hidup kita tak pernah makan es krim itu dan benda asing itu kemungkinan besar perut kita akan menolaknya… dan kita bisa sakit perut karenanya.
Lantas apa yang akan kita lakukan?
Kita mungkin akan rela kehilangan semangkuk besar es krim yang masih ada di depan kita, tapi apa iya kita juga rela kehilangan es krim yang hampir kita telan, padahal kita menginginkannya sepanjang hidup?
Setiap hari kita mengawali hidup dengan semangat hanya karena kita yakin kita akan melewati jalan yang sama, toko yang sama, wangi yang sama, yang hanya dengan membayangkannya saja membuat kita bahagia. Setiap hari kita berharap punya uang lebih untuk sekedar menikmati satu porsi kecil es krim yang begitu kita inginkan… Dan di saat semuanya benar-benar nyata, apa iya kita akan melepas harap dengan begitu mudah?
Mungkin kita akan lebih memilih menelan es krim itu, meski pada akhirnya kita memang sakit perut.
Tapi akan jauh lebih mudah buat kita mengobati sakit perut itu daripada kehilangan kesempatan (yang mungkin akan hanya ada satu kali buat kita) untuk menelan sesuatu yang membuat kita bahagia.
Meski sedetik saja, kita ingin mempertahankan harapan, meski setelah itu kita harus berjuang untuk bertahan..
Tapi satu hal yang kita tahu..
kita tak pernah menyisakan satu pun lembar kosong dalam dada kita yang akan diisi dengan penyesalan atas apa yang kita putuskan hari ini.
Dan apa jadinya kalau ternyata perut kita sama sekali tidak sakit seperti yang orang duga akan terjadi pada kita?
Maka kebahagiaan kita pun akan mengendap sejauh nafas kita masih bisa bertahan.
Jika kebahagiaan kita hanya terletak pada sesendok es krim yang bahkan bagi kita pun masih tanda tanya akan membuat kita sakit perut atau tidak…
apa iya kita harus meruntuhkan harap?
Kita tak ingin menyakiti siapapun dengan menelan apa yang kita inginkan.
Mungkin akan sedikit merepotkan jika kita benar-benar sakit, tapi bagian terbesar rasa sakit itu tetap jadi bagian diri kita.
Dan salah besar kalo ada yang menyangka kita tidak akan berjuang untuk bertahan dalam kesempatan yang mungkin membuat kita bahagia.

Dan saya, tentu saja, akan menelan sesendok penuh es krim itu. Dan jika saya, adalah sesendok penuh es krim mocca yang begitu kamu sukai, kamupun akan menelannya kan?

[ ...KJ... ]





22 Januari, 2009 at 6:56 am
harapan adalah jalan yang dilalui
tanpa harapan tak ada artinya perjalanan
setapak demi setapak perjalanan
setapak demi setapak mengukir harapan
22 Januari, 2009 at 7:04 am
pagi-pagi.. sambil minum kopi, tak lupa sambil ngepus
singgah di kidung jiwa serasa jiwa jadi mempesona, disini sarat kata-kata indah. semoga bisa jadiinspirasi bagi saya. mohon izin menaut blog mantab ini
22 Januari, 2009 at 11:35 am
satu kebaikan yang jarang tidak bisa dilakukan oleh setiap orang adalah memberikan sesuatu kepada orang lain ketika kita justru membutuhkannya
22 Januari, 2009 at 11:42 am
sure, such as sunrise on manglayang, even our song of rainy, something like that, one held in hand.. delighted, to warm up my soul, no words.., also miracle of god for us, coz there is only one place in your heart, and we just have to believe it, don’t you? and i’ll take it.
22 Januari, 2009 at 3:23 pm
susah ya…hidup itu penuh pilihan…yg akhinya kita gak pernah tau ^^!
22 Januari, 2009 at 3:32 pm
wooooowwww..mau dunk es kyimnya
kadang kita harus berani memutuskan apa yg harus kita lakukan..meski itu tak semanis es krim ..hehehe..
udh ahh..takut g nyambung hihihihihi..
kpn yah kita kumpul lg di atas bukit itu?
22 Januari, 2009 at 3:32 pm
rum Raisin chocolate ice cream by ten to five
22 Januari, 2009 at 5:17 pm
uhhmmm….
sulit untuk berkata-kata…
begitu menyentuh…
penuh pesan-pesan kebaikan…
semoga sukses ya mbak Vee….
23 Januari, 2009 at 8:37 am
Kalau qm yg jadi es krimnya, akan ku telan tanpa berpikir panjang lagi. aq akan melupakan semua penyakit dan tdk akan takut diserang oleh penyakit karna qm adalah obatnya.
24 Januari, 2009 at 4:22 pm
jangan di liatin terus teh esnya,nanti meleleh
mending langsung di telan aja
24 Januari, 2009 at 5:09 pm
bagi dong sist, saya sudah bawa mangkuk nih …
*datang memohon*
24 Januari, 2009 at 5:48 pm
dah jauh tertinggal tertinggal jauh banget aku
dan ternyata postingan yang maniz banget.
maafkan blue yang jarang ke rumahmu
salam hangat selalu
selamat akhir pekan
24 Januari, 2009 at 8:18 pm
bahkan rasa sakitpun bisa membuat kita bahagia…
*aku telan saja es krim itu*
24 Januari, 2009 at 11:24 pm
ibarat sedang berjalan tertatih berkeringat di lorong gelap yang berliku, semangat akan tetap ada jika di ujung sana nampak bayangan seseorang bermahkotakan daun cantigi yang memegang semangkuk es krim impian dan cahaya harapan.. Tak usah dengarkan rintihan dinding2 beku di sekitarmu.. Tetap semangat.. Raihlah mimpi dan harapan itu..
26 Januari, 2009 at 6:41 am
Wah analogi yang tepat dan indah.
Memang kadang-kadang kita menginginkan sesuatu dengan amat kuat. Itulah yang disebut idaman, mengidam. Untuk itu kita berjuang mati-matian, sepenuh hati dan raga agar mendapatkannya.
Tetapi,
Tidak semua yang kita idamkan mesti dipenuhi
Tidak semua yang kita idamkan dapat terpenuhi
Karena,
Sebagian terikat oleh kultur, norma, nilai
Sebagian lagi terhalang oleh ketidak-berdayaan kita
Sebagian lagi terhambat oleh nilai keyakinan tertinggi (agama)
Jadi,
Jangan memiliki keinginan atau harapan yang tidak realistis atau yang menyimpang dari kendala-kendala itu
Dan,
Lebih bersyukur terhadap apa yang sudah kita dapatkan dan miliki seraya berupaya dan berdoa dalam perjuangan kita
Begitu kali ya, mbak?
26 Januari, 2009 at 10:48 am
nyam…nyam….
26 Januari, 2009 at 10:58 am
Yah.., begitulah, hidup ini untuk memilih. Kalau ndak berani milih lebih baik ndak usah hidup.
29 Januari, 2009 at 6:02 am
Ass, pue haba syedara long yang na disinan????
Saleum meuturi….
29 Januari, 2009 at 10:48 am
di sana sandal goreng di sini es krim
29 Januari, 2009 at 11:38 pm
Wew, V keren nih… Sampe ga bisa ngomen…
Saya ikutan nyicip eskrimnya deh, boleh kan V?
30 Januari, 2009 at 9:34 pm
sayangnya saya kurang suka es krim, karena gigi suka ngilu hehehehehehe
31 Januari, 2009 at 10:07 am
apa yang diinginkan terkadang bukan yg dibutuhkan.. “keinginan adalah sumber penderitaan”..
31 Januari, 2009 at 10:28 pm
Mbak….es krimnya boleh juga tuh…nyiscip dikit ya….boleh yaaaaaaaaa…. Pernah coba pakai Roti di makan jam 12 siang? wiiiiiiiih manteb.
1 Februari, 2009 at 9:13 am
assalamualaikum…
salam kenal
3 Februari, 2009 at 10:46 am
itu realita yang ada mbak….
10 Februari, 2009 at 5:18 pm
mw eskrimnya mbak…. *merengek*
sy senang membaca artikel ini.. deep meaning inside
26 Maret, 2009 at 10:40 am
so sweet…….
he,he..
oh,
ya kata org tua TAK KENAL MAKA TAKSAYANG.
siapa disana???