Semua karena curhat!
28 Juli, 2008
Beberapa waktu ke belakang, saya dikagetkan dengan cerita teman saya (via telpon, karena dia berada di kota yang berbeda) tentang kedekatannya dengan seorang pria beristri dan beranak tiga. Reaksi pertama saya, jujur, KAGET! Dan selanjutnya naluri perempuan saya membawa saya pada “interogasi-interogasi” mengenai hubungan mereka.
Alasannya klise. Selalu berawal dari curhat. Si Pria curhat mengenai ketidakharmonisan hubungannya dengan si istri, dan teman saya curhat tentang kesendiriannya. Dan kemudian segala sesuatunya terkoneksi begitu saja. Menciptakan satu hubungan ketergantungan, kemudian keterikatan dan akhirnya pengharapan.
Teman saya mulai menjalani “kehidupan rahasia”nya dengan si Pria beristri-beranak tersebut, dengan berlandaskan pada satu janji si Pria yang akan segera menceraikan istrinya. Rasanya berbuih-buih saya mengingatkannya untuk tidak terjebak pada satu hubungan yang tidak jelas seperti itu. Keterikatan yang dibangun toh hanya sesuatu yang semu yang tidak jelas letaknya. Tapi teman saya itu sepertinya benar-benar jatuh cinta dengan segala perhatian, kalimat sayang.. bahkan jatuh cinta dengan kebohongan-kebohongan yang harus dibuat demi melancarkan usahanya untuk bertemu sang pujaan.
Akhirnya setelah waktu berselang, saya katakan dengan tegas, “Ini harus diakhiri, ga ada alasan untuk meneruskannya…” Dan rupanya kalimat saya diucapkan pada saat yang tepat, karena ternyata dia mulai lelah dengan ketidakjelasan hubungan mereka, juga janji menceraikan sang istri yang tidak kunjung dipenuhi, sampai akhirnya tercetus opsi sebagai istri kedua, tanpa sepengetahuan istri pertama (tentunya), yang mendatangkan satu dilema dalam hati teman saya tersebut. Sebagai kompensasi saya menyediakan waktu 1×24 jam dalam sehari untuk mendengarkan keluhannya, tangisnya, keenggaberdayaannya.
Suatu saat saya memulainya dengan satu pertanyaan, “Apa yang kamu cari dari hubungan ini? Kebahagiaankah jawabannya?” Dan jawabannya tepat seperti perkiraan saya (karena kalau tidak, saya tidak mungkin melanjutkan kata-kata saya), “Kalau memang kebahagiaan yang kamu cari, sama seperti apa yang saya cari, maka kita punya 1001 cara untuk bahagia tanpa harus mengorbankan orang lain. Apa iya kita harus mengeluarkan the devil’s side of us cuma untuk berdoa semoga dia menceraikan istrinya, berpisah dari anak-anaknya? Atau apakah benar, hati kita menerima untuk dijadikan yang kedua tanpa sepengetahuan yang pertama? Seumur hidup kamu akan jadi duri bagi hubungan orang lain. Tolong juga bayangkan tentang satu paket besar kebohongan yang akan makin kuat membungkus kehidupan kalian berdua. Tolong sebutkan dimana letak kebahagiaannya jika hidup dalam kebohongan?”
Entahlah.. mungkin benar, dalam satu kehidupan rumah tangga, hampir selalu ada pria idaman lain, atau wanita idaman lain, tapi bagi saya pribadi kenyataan itu selalu mencengangkan nalar saya. Sedikit membuat saya takut. Saya takut ‘keegoisan’ saya untuk jadi ‘the one and only’ perempuan dalam kehidupan suami saya kelak, tidak terwadahi. Dan sebaliknya saya takut, jika sandungan itu justru berada pada jalur jalan yang harus saya lewati.
Antisipasi pertama yang sempat juga pernah saya katakan , “Jangan curhat mengenai apapun pada lawan jenis.” Karena kenyataan pertama, perselingkuhan terjadi karena CURHAT. Awalnya mungkin karena enjoy mendapatkan teman bicara yang seolah mengerti dengan masalah yang kita hadapi. Kemudian terjadi saling simpati, keterhubungan, keterikatan, ketertarikan. Setidaknya itu analisis saya, entah orang psikologi menerangkannya dengan cara bagaimana. Berbicara jujur dengan pasangan jika ada hal yang dianggap kurang, dianggap salah, menimbulkan perasaan tidak nyaman, tidak aman, jangan berbicara dengan orang lain, kecuali dengan seseorang yang disepakati bersama mampu memberikan solusi terbaik, seseorang yang dipercaya oleh kedua pasangan. Mungkin itu solusinya. Aaahh… saya tahu saya terlalu banyak berkata-kata. Lagi-lagi sok tahu pula. Maafkan, maafkan…
Tapi ada satu berita bahagia, teman saya akhirnya akan menikah dalam waktu dekat. Tidak dengan pria beristri-beranak itu. Syukurlah… (teman-teman saya bilang, “KAMU KAPAN?” Aaaahhh lagi-lagi pertanyaan yang sulit saya jawab. Do’anya saja….!).





28 Juli, 2008 at 4:03 pm
Mungkin itu memang gaya menjerat mereka kali mbak, mesti hati-hati. Lihat kasus BT (Bamb Tri), mirip khan. Ah..semoga kita terhindar. Kita buat yang terbaik aja deh… (sok tua gitu, padahal nggak pengalaman juga)
28 Juli, 2008 at 4:54 pm
saya mengerti cerita ini,
uhmmm.. jadi KAMU KAPAN..? *loohh*
semoga V dikasih kesehatan & kemudahan2…
28 Juli, 2008 at 5:11 pm
Jadi inti ceritanya ini, pada pengen nikah semua yah??
28 Juli, 2008 at 5:49 pm
hihihiiihihi…….speechless bacanya V…..smoga gak ada curhat2 lain yg berakhir demikian yaaahhh
28 Juli, 2008 at 5:59 pm
wuiih… sama persis dengan yang EthaQ katakan, “Jangan Curhat2an sama cewek lain” untuk meminimalisir terjadinya hal kek gitu… emang betul..betul bgt V.
28 Juli, 2008 at 6:24 pm
Curhat menjadi kambing hitam yah?
Kalau curhatnya ditulis di blog boleh ngga V?
28 Juli, 2008 at 10:19 pm
niat nya dari awal emang udah gk baik kali….
28 Juli, 2008 at 11:26 pm
Setelah baca sampai paragraf akhirnya..syukur deh.. temenmu jd ga nikah ma pria beristri..
Emang curhat kadang menimbulkan rasa..:D
29 Juli, 2008 at 10:54 am
dari curhat turun ke hati hehehe…..
mm…..jeng, saya doakan cepet diampiri jodonya ya
sabar ya jeng
29 Juli, 2008 at 11:28 am
duh…jadi paur …asa maut hinis baca postingan V…
jangan2..jangan2 neh….hihihihi…
29 Juli, 2008 at 1:18 pm
jazakillah khairan
tp tergantung orgnya jg sih…meski ahsan tdk bgitu ya… ^_^
29 Juli, 2008 at 1:28 pm
Wuih…
yg lagi curhat…
29 Juli, 2008 at 2:02 pm
Mbak KJ, ini mesti baca cerita ini deh….
http://www.motivasi.web.id/?p=79
Nice story banget
29 Juli, 2008 at 3:03 pm
tapi yang komen kok belum beristri
*nglirik mas deni * D
29 Juli, 2008 at 4:20 pm
mungkin ada baiknya embak pura-pura curhat sama kecengan
29 Juli, 2008 at 6:24 pm
mwmang kadang sang pencurhat malah melampiaskan cintanya pada sang pendengar curhat
wah ini mah dah termasuk modus operandi yang biasa kok
makanya hati2 kalo kelak aku ngajak curhat ama dirimuh
29 Juli, 2008 at 6:34 pm
rumput tetangga katanya lebih hijau
29 Juli, 2008 at 8:40 pm
Salam
semuanya selalu berawal dari curhat yak…Hmmm *mikir*
29 Juli, 2008 at 8:51 pm
“KAMU KAPAN?”
Saya juga ndak bisa jawab ini. Hikss.
30 Juli, 2008 at 10:40 am
Untung anak saya mah dua, jadi bukan saya ya V.
30 Juli, 2008 at 11:20 am
dan kidung yang indah ini, berhasil merayuku
30 Juli, 2008 at 11:38 am
gk ada niat tapi buat kesempatan gitu ya maksudnya…
30 Juli, 2008 at 5:52 pm
temenmu itu juga beruntung ada teman curhat spt kamu
30 Juli, 2008 at 6:51 pm
V jangan ikutan gitu ya! ikutan jadi Wil atau bini muda maksudnya… Tenang aja, semuanya ada waktunya kok. dan jika waktu itu sdh tiba akan V rasakan keindahannya (halahh.. sok puitis
)
jadi kamu kapan ??
30 Juli, 2008 at 8:04 pm
Silaturrahmi…
“Ini harus diakhiri, ga ada alasan untuk meneruskannya…”
kata2 ini benar2 tolak ukur dari segalanya, mbak kidungjingga…
Assalamu’alaikum
31 Juli, 2008 at 3:09 am
Curhat perlu dan sangat membantu, tapi kita harus jeli melihat teman curhat yang bagaimana, atau selayaknya kita memilih teman curhat yang bisa dipercaya….
31 Juli, 2008 at 4:03 am
ikutan spechless..
(
31 Juli, 2008 at 8:33 am
.. no comment ah …
31 Juli, 2008 at 10:18 am
apa sih yang dicari dari sebuah hubungan? ehm … saya tidak pernah menemukan jawaban, yang pasti selalu indah pada awalnya, hanya itu yang saya tahu, selebihnya
31 Juli, 2008 at 11:00 am
kamu kapan?
*kaburrrrrrrrrrrrrrrr*
1 Agustus, 2008 at 1:37 am
jadi kapan dong???
*ikutan mas yusdi*
ps:mbak,, blognya daku link!
1 Agustus, 2008 at 10:07 am
Cinta kadang datang tak terduga, saat chemistry_nya muncul di situ cinta tak bisa di elakan lagi. Kalau gak mau kerukunan keluarga runtuh. Komunikasi adalah jalurnya. Sama ketika punya WIL atau PIL pun kita tetep bicara dan terbuka dengan Pasangan Tetap. Sehingga memperkecil peluang curhat sama pihak lain, Memperkecil peluang melebarnya Chemistry untuk punya PIL atau WIL. Curhat dengan pasangan sendiri kan jauh lebih nyaman non…
1 Agustus, 2008 at 11:08 am
hauhauhau…..sama aja kaya’ sebagian yang lain
nyomot kalimatnya Nenyok : “kamu kapan?”
mingkem mode ON
* kedip2an mata sama Ney sama kang achoey
*
1 Agustus, 2008 at 2:20 pm
Jadi *KAMU KAPAN…?* kasihan Bee, dah lama nunggu tuh. hehehehe
1 Agustus, 2008 at 4:44 pm
trus klo curhat itu salah berarti kita g boleh curhat dong???
bukannya klo kita curhat itu berarti kita mempercayai tempat curhat kita
1 Agustus, 2008 at 6:52 pm
hihihi.. terkadang berselingkuh itu menantang.. maksudnya menantang bahaya, jadi beberapa orang yang punya sikap penyimpangan suka terhadap sesuatu yang punya sifat “menantang
1 Agustus, 2008 at 11:01 pm
wah, kayaknya mb Vdee ni tempat curhat yang baik..
2 Agustus, 2008 at 10:38 am
wah masih curhat-curhatan
eh curhat khan “MENCURI HATI”
2 Agustus, 2008 at 6:57 pm
Kalo berdasarkan pengalaman saya cie….emang CURHAT adalah awal dari BENCANA,dulu saya pernah batal menikah dgn “someone” dikarenakan rusaknya hub kami oleh orang ketiga, dan orang ketiga ini adalah (maaf) escort disebuah karaoke di jawa timur. Awalnya mantan pacar saya hanya sebagai tempat CURHAT si perempuan ini,lama kelamaan timbul belas kasihan yang akhirnya berlanjut ke hubungan gelap diantara keduanya, Alhamdulillah saya segera mengetahui hal ini,yang walaupun amat menyakitkan tapi lebih baik saya tau sebelum saya menikah daripada nanti setelah terjadi sebuah pernikahan. Dan sekarang saya udh melupakan semuanya dan hidup bahagia dengan suami saya saat ini yang (pastinya) jauh lebih baik dari dia.
3 Agustus, 2008 at 3:32 pm
aku salah masuk….
bukan ukuranku
4 Agustus, 2008 at 9:37 am
ah, ga karena curhat aja. intensitas interaksi juga bisa jadi. cuma, kalo curhat tentang ga harmonis dengan istri, ya… seperti kata achoey, itu sudah modus operandi yang basi tapi masih aja manjur
5 Agustus, 2008 at 3:15 pm
Trus,… kapan ini undangannya,… ?
8 Agustus, 2008 at 2:17 pm
saya lebih suka curhat ke temen curhat ke orang lain ,
hehehe walah…
16 Agustus, 2008 at 12:49 pm
saya paling tidak setuju selingkuh.
25 Agustus, 2008 at 9:24 am
fiuh… nice story. bisa jadi pelajaran berharga. hanya saja…kadang memang lebih nyaman curhat dengan lawan jenis.
17 September, 2008 at 1:10 pm
Ihhhh..jadi pengin curhat nih…?
Lam kenal dari Tuyi….
11 Agustus, 2009 at 2:55 pm
whoaaaaaaa…setuju ..setuju…setuju…