in the name of honor (a true story)
10 Juni, 2008
Gambar diambil dari sini
“… aku tidak akan pernah melupakan wajah-wajah para binatang itu. Bagi mereka perempuan hanyalah sebuah benda yang dapat dimiliki, dialihkan kepada orang lain, atau dijadikan pelampiasan dendam. Mereka menikahi atau memerkosa perempuan berdasarkan konsepsi mereka mengenai kebanggaan kesukuan. Mereka sadar bahwa perempuan yang dipermalukan dengan cara demikian tidak memiliki pilihan lain kecuali bunuh diri. Mereka bahkan tidak perlu menggunakan senjata-senjata untuk membunuh perempuan itu. Pemerkosaan akan membunuhnya…”
Ya, Mukhtaran Bibi yang kemudian dikenal dengan Mukhtar Mai, 6 tahun silam dijatuhi hukuman oleh Dewan Adat di desanya (Meerwala, Pakistan), dengan cara diperkosa beramai-ramai, ditelanjangi dan diperintahkan berjalan pulang dengan kondisi setengah telanjang di hadapan 300-an penduduk desa. Hukuman tersebut dijatuhkan atas kesalahan yang tidak diperbuat adik laki-lakinya yang berumur 12 atau 13 tahun, yang dituduh oleh Kaum Mastoi memiliki affair dengan perempuan dari klannya yang berumur lebih dari dua kali lipatnya. Mukhtar Mai memohon ampun dan membaca Al Qur’an (satu-satunya bacaan yang dihapalnya), tapi hukuman tetap dilaksanakan dan meninggalkan luka yang demikian dalam bagi Mukhtar Mai.
Dengan segala keputus asaan, bunuh diri (seperti juga yang dilakukan banyak sekali perempuan di sekitarnya) menjadi satu-satunya pilihan termudah untuk menghilangkan segala perasaan malu dan ketidakberdayaan. Tapi kemudian ada satu hal yang membuat dia bangkit, menuntut keadilan untuk dirinya dan jutaan perempuan Pakistan lainnya yang mengalami nasib serupa.
Dari lembar per lembar buku ini, kita akan dibawa ke dalam perjuangan seorang perempuan Meerwala yang memegang teguh tradisi. Tradisi yang menganggap perempuan sebagai barang yang dapat dipertukarkan, tradisi yang menganggap keharusan untuk seorang perempuan dihukum atas kesalahan yang dilakukan laki-laki, tradisi yang menginginkan perempuan tetap menderita dalam sikap diamnya, tidak diperkenankan berfikir, tidak boleh belajar membaca dan menulis, serta mencari tahu bagaimana keadaan dunia di sekitar mereka. Kita akan dibawa pada perjuangan satu wanita buta huruf yang baru mengetahui bahwa mereka memiliki hak-hak yang dapat diperjuangkan. Berjuang untuk dirinya dan seluruh perempuan yang menjadi korban tindak kekarasan di negaranya. Berjuang melawan prinsip keadilan adat yang bertentangan dengan undang-undang resmi republik islam.
Buku biografi ini pertama kali terbit pada Maret 2007. Tapi bagi saya pribadi, kisah yang tertuang di dalamnya memberi kesan sedemikian dalam mengenai arti “melawan”, berjuang untuk mendapatkan keadilan dan kehormatan.






10 Juni, 2008 at 11:54 am
hmm, sepertinya cerita yang menarik dan mengesankan. Pinjem dong bukune, tanggal tua banget neh. Jadi gak bisa beli2 buku
.
10 Juni, 2008 at 2:31 pm
hehheheh….webnya tampilanya kok jadi keren gini ya? hehhehehe…..
eh bukunya bagus jugak sih V, pas waktu dihukum telanjang and diperkosa…ada gambarnya gak?
10 Juni, 2008 at 3:48 pm
membaca buku itu seolah menjadikan aku seperti berada di posisi Mukhtar Mai, rasa sakit itu seperti muncul didalam diri – tentu saja bukan sekedar rasa pada waktu diperkosa ramai2, hihihi – namun lebih pada rasa tentang ketidak berdayaan, kehampaan dan terjualnya harga diri… walaupun pada kenyataannya yg ia rasakan pastilah lebih menyakitkan & menyisakan trauma2 psikologis yg lebih & teramat dalam.
Kisah itu juga membukakan mataku tentang kompleksitas budaya & peradaban, bahwa disana disaat ini ketika kita merasa tertinggal oleh kemajuan ternyata masih ada tempat untuk melampiaskan senyum getir, mencibir.
Thx V, gara2 tulisanmu itu jadi mengingatkanku tuk segera mencari tau dimana & sapa yang meminjam bukuku tsb…hehehe
10 Juni, 2008 at 8:26 pm
masyarakat dunia ketiga akrab dengan kebodohan.
itu sebabnya bisa terjadi kasus-kasus beginian, yang sampai sekarang masih terjadi.
masyarakat ngga bisa berpikir kritis dan positif.
ini ngga ada hubungannya dengan kesukuan atau agama.
ini semata-mata karena masyarakatnya bodoh dan cara berpikirnya sempit.
dan sedihnya, masyarakat indonesia juga masih termasuk dalam kategori bodoh dan picik ini.
benar-benar memprihatinkan.
11 Juni, 2008 at 2:28 pm
Jika saja setiap orang memandang Wanita seperti dia memandang Ibu nya, tentu dia akan memeperlakukan tiap wanita dengan penuh hormat.
“Ready to Fighting” untuk Perempuan Indonesia !! ^_^
11 Juni, 2008 at 2:58 pm
Lagi Feminis ya neng?? ^_~
Minjem donkkkkkkk!!!! *Bukan minta!* ^_^
12 Juni, 2008 at 9:39 am
duh V rasanya belum “sembuh” benar “luka” bunda ketika membaca buku Laskar Mawar-nya Barbara Victor. Tanpa mengilangkan rasa penasaran pada buku ini, untuk sementara bunda mau istirahat dulu membaca buku penuh kengerian, traumatik….
Buku ini pasti bagus, terlebih V yang mereview.
Terimakasih untuk janjinya yang sudah dipenuhi…..love u V…
17 Juni, 2008 at 7:17 pm
salam Kenal,
Pada dasarnya keadilan yang dituntut oleh Bibi masih belum mendapat apresiasi yang sesungguhnya dari pemerintah, keputusan yang dibuat untuk pemerkosanya masih bersifat politis.
25 Juni, 2008 at 2:53 pm
wah..
menarik nih…
sekaligus miris juga melihat kondisi seperti itu bisa terjadi..
19 Desember, 2008 at 10:07 am
Nice review… keep up good blogging…cheers…