Yuk, bicara dari hati ke hati!
6 Mei, 2008
Pernah kan lihat iklan Sariwangi yang versi sebelum yang sekarang sering muncul di layar kaca? Itu loh versi suami istri salah janjian… Si istri dapat sms dari suaminya untuk janjian bertemu di salah satu tempat favorit mereka. Si istri menduga tempat yang dimaksud adalah sebuah resto, padahal maksud si suami, justru malah kamar tidur mereka. Keduanya lantas saling menunggu di tempat yang berbeda. Sampai akhirnya si istri menyerah, pulang ke rumah, bertemu suaminya yang juga “bete” menunggu si istri. Mereka saling tak berbicara, menjaga jarak, defensive… Tapi kemudian si istri berinisiatif membuat 2 cangkir teh dan memulai komunikasi dengan “bersih”, tanpa iktikad ingin menyalahkan. Mereka BICARA, berKOMUNIKASI dan masing-masing menyadari kesalahan antara mereka dan semua selesai dengan senyum… Ah… indah!
Tapi yang ingin saya ceritakan kemudian bukan tentang itu. Ini mungkin jadi pelebaran cerita. Saya membayangkan bahwa suami istri itu memiliki seorang anak, dan diam-diam si anak sembunyi di balik pintu dengan harap-harap cemas, menunggu… dan menunggu, apa yang selanjutnya akan terjadi, demi melihat kedua orang tuanya saling tak berbicara. Kemudian si anak lega, tersenyum, ketika tahu orang tuanya menyelesaikan persoalan dengan “damai”, tanpa ada pertengkaran, tanpa ada teriakan.
Kenapa saya tiba-tiba ingin “cerita” tentang pertengkaran “orang tua” vs “perasaan anak-anak mereka” (waduh saya tak berani mengatakan “psikologi”, lah wong bukan pakarnya), semata hanya karena saya ingin meneriakan apa yang saya yakini mereka rasakan, ketika mereka ada pada posisi itu.
Rasanya bukan hal yang aneh lagi, si anak menyaksikan kedua orang tuanya bertengkar hebat, saling menyalahkan, saling menjelekkan, saling teriak… Mulanya si anak merasa cemas, ketakutan, tapi bisa jadi pada satu titik mereka merasa luar biasa lelah dan akhirnya tidak peduli lagi, setidaknya itu yang berusaha mereka perlihatkan, hati mereka? Who knows…
Saya bukan seorang ibu dari siapapun (nikah saja belum…), tapi jika sampai pada waktunya nanti, saya tak ingin sekalipun anak-anak menyaksikan pada saat orang tuanya ribut, apalagi sampai saling mengobral kejelekan pasangan di depan anak-anak. Anak-anak harus tahu bahwa orang tua juga bisa bertengkar, berbeda pendapat, tapi there’s a thousand ways buat menyelesaikan semuanya. Mungkin semuanya tidak harus selesai dalam satu tarikan nafas, tapi orang tua tidak harus membebankan perasaan “tidak nyaman” bagi anak-anaknya karena masalah yang belum terselesaikan. Anak-anak tidak harus menyaksikan orang tuanya bersikap saling memusuhi. Kebingungan dengan kondisi itu, apalagi jika kemudian sampai pada tahap yang luar biasa parah, dimana anak berkali-kali diberondong pertanyaan “kejam”, “kamu mau mihak siapa? papa atau mama?”
Jangan salah loh… orang tua kadang dengan emosinya bilang sama si anak, “papa mama tuh bertahan dalam pernikahan ini cuma karena kamu, kalau ngga inget sama kamu, papa mama tuh dah cerai dari dulu-dulu…!” Padahal mungkin si anak sudah ‘eneg’ dan bahkan berharap sebaliknya. Mungkin dalam hatinya dia berkata, “Please deh ma, pisah aja deh! aku dah cape tiap hari denger orang teriak-teriak!”
Ini yang lucu sebenernya, ‘bertahan dalam satu pernikahan’ ko demi anak? Apa mereka juga melibatkan anak-anak juga (yang bahkan saat itu “pasti” belum lahir), pada saat mereka melangsungkan akad nikah? Tidak kan?
Idealnya nikah itu kan karena cinta, dengan berharap keridloan Allah, dengan “ibadah berjama’ah” yang dilakukan itu. (eh setuju kan kalo pernikahan salah satu bentuk ibadah berjamaah? Dimana ada imamnya, ada makmumnya, ada batasannya, dll)
Saya sadar, mungkin saya sok tau sekali ya? Mengalami sendiri yang namanya pernikahan dengan segala “perniknya” saja belum pernah. Tapi ibaratkan saya sebuah tabung, tabung itu sudah lebih dari setengahnya terisi dengan berbagai macam persoalan ‘rumah tangga’ yang mau tidak mau saya dengar, saya saksikan dari lingkungan sekitar saya. Yah, saya hanya penonton. Tapi kira-kira saya tahu seperti apa rasanya menjadi korban dalam satu pernikahan yang tidak sehat.
Kembali ke masalah “kekerasan psikologis” yang dialami si anak dalam satu pernikahan tidak sehat yang dijalani orang tua mereka. Si anak akan menjadi korban tekanan dari kedua orang tuanya. Pada saat bersama si ibu, tanpa sadar si ibu menjelek-jelekkan si ayah. Dari A – Z kejelekan si ayah terkuras habis, bahkan sampai hal-hal yang tidak perlu diketahui si anak. Bisa jadi hal ini membuat si anak terpengaruh, kemudian membenci si ayah, atau paling tidak kehilangan kepercayaannya pada sosok seorang ayah (baca: pria). Dan atau sebaliknya.
Jangan pernah menganggap enteng pertengkaran suami istri sebagai “hal yang semua orang akan menganggapnya lumrah atau wajar.” Mungkin benar wajar, beda kepala beda pemikiran, beda hati beda yang dirasakan. But, be wise!!! “Bertengkarlah!”, “berbeda pendapatlah!” dengan cara-cara yang lebih bijak. Jangan lagi membebani anak-anak dengan persoalan-persoalan yang belum selayaknya mereka telan. Jangan lagi mempertontonkan drama kekerasan di depan mereka. Anak-anak mungkin tidak pernah jadi korban secara langsung, tapi jiwa mereka, rasa mereka, pola fikir merekalah yang jadi korbannya.
Lebih baik “ngeteh”, bicara dari hati ke hati, dengan senyum, dengan ketulusan.





6 Mei, 2008 at 1:59 pm
hikss veeee!!!! aku kok jd terharu baca tulisan mu yah, jd inget anak2 kyu T_T yawdah, baikan deh baikaannnn…..
lhoo………..^______________^
6 Mei, 2008 at 2:38 pm
@nia
mommy… v juga terharu, ko ada yang baca juga? hehe…
ni tulisan panjang, tapi ga jelas ujung pangkalnya yah?
ga pa pa lah.. esmosi mi esmosi… abis mommy ma poppy (loh kok?) berantem mulu…
6 Mei, 2008 at 3:15 pm
Kalo sambil ngopi boleh gak? hihihi… Yah dalam satu keluarga emang dibutuhkan kepercayaan dan komunikasi. Dan yang pasti seluruh penghuni rumah kudu sadar bawah baiti jannati….
Harus selalu ada senyuuuum.
6 Mei, 2008 at 4:06 pm
Waw, emang bisa abis marahan trus minum teh lantas dingin tiba-tiba..
Kecuali anak-anak, jarang lho saya nemuin orang yang bertengkar lantas bisa dingin seketika..
7 Mei, 2008 at 5:18 am
SETUJUUUUUH!!!!…
sy yakin kok dgn adanya komunikasi yg lancar semua persoalan bisa di uraikan dan dicari jalan keluar terbaik yg menguntungkan kedua belah pihak….
nice post eniwei..
7 Mei, 2008 at 8:12 am
Sukses dalam hidup = 75 % komunikasi
7 Mei, 2008 at 8:57 am
@fisha17
rumahku adalah surgaku. benerrr…
boleh ko sambil ngopi, sambil makan-makan sampai kekenyangan pun boleh.. hehe..
@mriza
Saya bilang, masalah mungkin tidak selesai dalam satu tarikan nafas, tapi intinya adalah bahwa, “orang tua” seharusnya tahu dan mengerti bahwa untuk menyelesaikan masalah dibutuhkan satu komunikasi yang bersih tanpa keinginan saling menyalahkan, seharusnya orang tua tahu bahwa pertengkaran “hebat” mereka mempengaruhi anak-anak.
Kenapa ngeteh? Karena memang ga ada dari sananya orang ngeteh sambil teriak-teriak marah kan pak? Artinya….?
@theloebizz
makasihhhh…..
@diorockout
25% nya?
8 Mei, 2008 at 10:43 am
Hm … menarik tulisannya.
Dulu sebelum nikah, hal seperti (yang ditulis di posting) ini berusaha saya terapkan. Melihat dari pengalaman orang tua sendiri, saudara-saudara, orang tua temen, dsb saya (semacam) berikrar: “nanti kalo udah nikah (dan punya anak) harus se-wise mungkin menyikapi semua masalah dengan istri”.
Tapi … setelah menikah dan (sekarang) udah punya anak, ternyata gak sesedarhana itu. Banyak faktor lain (yang dijadiin pembenaran). Intinya sih, ego (dari suami maupun istri) yang “berbicara”. Yang jelas, memang harus berusaha se-wise mungkin.
Nanti juga jeungs kidungjingga ngalamin sendiri.
9 Mei, 2008 at 9:27 am
@Rully
Hehe… meniatkan yang baik, dan “berharap” orang lain juga meniatkan hal yang baik, masih jadi prioritas saya saat ini.
sangat mengerti bahwa “teori” toh kadang terlupakan pada saat kita dihadapkan pada situasi real, tapi bukan berarti kita sama sekali tidak “berteori” kan? Mudah2an saja tetap selalu ada satu titik, dimana kita ingat semua “teori2″ itu, dan berusaha mewujudkannya
10 Mei, 2008 at 6:14 pm
ho oh setuju. initnya sih, berusaha.
jadi kapan nih?
10 Mei, 2008 at 8:12 pm
Alhamdulillah, saya dilahirkan sebagai manusia yang mau mendengar suara hati orang lain … yok bicara.
12 Mei, 2008 at 9:44 am
@Rully
Kapan yah….? Do’anya saja
@Rindu
Duh, kalau saja semuanya seperti kamu, sist!
22 Juni, 2008 at 10:57 pm
29 Juni, 2008 at 3:51 pm
syukur saya adalah saya dianugerahkan suami yang benar2 bisa menjadi penyejuk dalam setiap perselisihan (yang selalu saya yang menjadi pemicunya)… itu yang membuat saya selalu berpikir ulang untuk “yelling…” dalam setiap beda pendapat… tapi kadang masih tetap bingung juga memilih waktu tepat untuk saling heart 2 heart biar gak merusak suasana gtu…. ada masukan?
5 Juli, 2008 at 12:49 am
Asslm…wr…wb
Salam kenal… mo numpang nimbrung boleh gak ya kira-kira….
Ya, kalo kita meang menyadari dan memahami peran masing-masing dan adanya komunikasi dua arah yang baik, semua itu akan berjalan dengan baik. Saya jadi inget kata-kata bijaksana…
“jika kita menuntut seseorang untuk melakukan apa yang menurut standar kita, maka percayalah dia juga akan menuntut kita untuk melakukan sesuatu menurut standarnya”.
Wah… wah neng/jeng kidungjingga ini tulisannya bagus-bagus, boleh belajar gak ya….
Mudah-mudahan kalo neng/jeng kidungjingga punya suami + anak-anak, bisa mengaplikasikannya.
Karena tentunya setiap dari kita ingin membentuk keluarga yang SAMARA : Sakinah… Mawaddah…Warohmah, amin…
btw… karena saya belum berkeluarga, saya jadi dapet pelajaran atau ilmu nih…..
Wassalam,
Suandi Pangkapi